WARISAN ALI BIN ABI THALIB A.S.

WARISAN ALI BIN ABI THALIB A.S.

Berdasarkan wasiat Nabi Muhammad saw., pertama yang dilakukan Ali bin Abi Thalib a.s. sepeninggal beliau adalah mengumpulkan Al-Quran. Usaha pengumpulan ini memiliki beberapa keunggulan di atas pengumpulan yang juga kemudian dilakukan oleh orang-orang seperti Utsman bin Affan. Kelebihan itu lebih dikarenakan penertibannya sesuai dengan waktu turunnya dan disertai dengan sebab-sebab turunnya ayat, tafsir dan ta’wil yang dibutuhkan oleh umat Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib pernah mengajukannya kepada khalifah pertama Abu Bakar Siddiq namun jawaban yang diterima demikian, ‘Kami tidak membutuhkan ini’. Ali kemudian memberikan isyarat bahwa setelah ini mereka tidak akan mendapatkannya lagi. Dan memang demikian. Al-Quran yang dikumpulkan oleh Ali kemudian diwariskan kepada imam setelahnya dari anak-anaknya.

Disebutkan juga bahwa Ali bin Abi Thalib a.s. memiliki karya lain yang disebut dengan Shahifah yang memuat hukum-hukum tentang diyat (tata denda). Bukhari, Muslim dan Ibnu Hanbal meriwayatkan keberadaan Shahifah ini. Ada juga sebuah kitab yang dinisbatkan kepadanya Ali bin Abi Thalib, bernama Al-Jamiah. Kitab ini memuat semua hal yang dibutuhkan oleh manusia seputar halal dan haram. Imam Ash-Shadiq a.s. menyebutkan keberadaan buku ini dan menjelaskan ukuran panjangnya yang mencapai tujuh puluh jengkal. Ia juga menerangkan bahwa semua masalah tercatat di dalam kitab itu, bahkan perkara-perkara yang remeh.

Kitab Al-Jifr yang juga disebut-sebut milik Ali bin Abi Thalib memuat hal-hal yang berkaitan dengan kejadian masa depan dan lembaran-lembaran para Nabi sebelumnya. Kitab ini hampir sama dengan mushaf Fathimah Az-Zahra a.s. yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib dari pendiktean Fathimah a.s. sendiri. Setelah kematian sang ayah, Nabi Muhammad saw., mereka berdua menghimpun hikmah-hikmah yang terilhamkan kepada mereka.[1] Kitab-kitab tersebut di atas merupakan pusaka Imamah yang berpindah tangan dari satu imam ke imam yang lain.

Para ulama telah berusaha keras untuk menghimpun warisan intelektual Ali bin Abi Thalib a.s., mulai dari khotbah-khotbahnya, surat-surat hingga kalimat-kalimat hikmahnya, lalu dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi nama sesuai dengan tujuan para penghimpun. Buku pertama dan paling terkenal yang menghimpun semua itu adalah Nahjul Balaghah yang dikumpulkan oleh Syarif Ar-Radhi yang wafat pada tahun 404 H.

Syarif Ar-Radhi berhasil mengumpulkan pikiran-pikiran cemerlang dari Ali bin Abi Thalib a.s. mengenai berbagai macam masalah, dimulai dari akidah, akhlak, sistem pemerintahan dan manajemen, sejarah, sosial, psikologi, doa, ibadah dan berbagai macam ilmu alam. Karena tidak semua pikiran-pikiran Ali terkumpulkan oleh Syarif Radhi dalam Nahjul Balaghah, sebagian ulama  mengumpulkan sisa-sisa pikiran Ali yang kemudian dikenal dengan nama Mustadrakat Nahjul Balaghah.

Imam An-Nasa’i yang wafat pada tahun 303 H meriwayatkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib a.s. dari Rasulullah saw. Lalu dicatatnya dalam sebuiah kitab dengan nama Musnad Imam Ali a.s.

Al-Amadi, wafat pada tahun antara 520 dan 550 H, mengumpulkan kalimat-kalimat pendek Ali bin Abi Thalib a.s. yang berisikan mutiara-mutiara yang dikenal dengan nama Ghurar Al-Hikam wa Durar Al-Kalim.

Abu Ishaq Al-Witwath yang meninggal antara tahun 553 dan 583 H mengumpulkan ucapan-ucapan Ali a.s. dalam bukunya yang disebut Matlub Kulli Thalib min Kalam Ali bin Abi Thalib. Al-Jahizh, meninggal tahun 255 H, sendiri mempunyai buku khusus memuat ucapan-ucapan Ali. Nama bukunya adalah Miah Kalimah. Sementara At-Thabarsi, penulis tafsir terkenal Majma’ Al-Bayan, mengumpulkan ucapan-ucapan Ali a.s. dalam bukunya Natsr Al-La’ali. Nashr bin Muzahim memiliki buku bernama Shiffin yang berisi kumpulan dari khotbah dan surat-surat Ali. Dan sebuah buku yang bernama As-Shahifah Al-Alawiyah memuat kumpulan doa-doa yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Mengenal Nahjul Balaghah

Kalau Al-Quran disebut sebagai mukjizat kenabian, maka Nahjul Balaghah sebagai mukjizat imamah. Rasionalitas yang tampak dalam metode penyampaian yang transenden dan jelas dalam setiap kalimat Nahjul Balaghah telah ditanam dan dipupuk oleh Nabi Muhammad saw. yang mendapat tuntunan langsung dari wahyu Allah swt. Dalam setiap tema yang disampaikan dapat ditemukan cahaya Allah memancar dari depan dan hidayah Nabi menerangi jalan di depannya.[2]

      Syarif Ar-Radhi, sang penyusun Nahjul Balaghah, mengatakan: “Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mengangkat kefasihan sampai di puncaknya. Dari lisannyalah rahasia-rahasia dan rumus-rumus seni kefasihan dalam tata bahasa Arab itu diletakkan. Setiap orator besar akan mencuplik perumpamaan yang digubah olehnya. Setiap penceramah selalu terbantu oleh tutur katanya. Meski demikian, kefasihan Ali bin Abi Thalib tetap sebagai yang terdepan, dan setiap keunggulan  yang hendak diupayakan masih belum sanggup melampaui kefasihannya, bahkan senantiasa terbelakang, sebab ucapan Ali menyimpan sentuhan ilmu ilahi, di dalamnya tercium sabda Nabi”.

Mengenal Akal dan Pengetahuan

  1. Keutamaan yang harus dimiliki oleh seseorang adalah akal. Bila ia rendah akan menjadi mulia, bila terjatuh akan ditinggikan, bila tersesat akan ditunjuki, dan bila berbicara akan dituntun ke jalan yang lurus.
  2. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang menghidupkan akalnya, menguasai hawa nafsunya dan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki akhiratnya.
  3. Agama diukur sesuai dengan kemampuan akal. Seorang mukmin tidak akan beriman sampai ia berakal. Nilai setiap orang diukur dengan akalnya.
  4. Ketahuilah (nilai) akal dari beberapa hal:
    1. Akal menjauhkan diri dari perbuatan dosa, melihat akibat perbuatan, dan membuat orang waspada.
    2. Akal adalah prinsip ilmu dan mengajak manusia untuk memahami sesuatu.
    3. Akal adalah potensi yang semakin bertambah dengan ilmu dan pengalaman.
    4. Hati terkadang memiliki siratan-siratan buruk, dan akal menahan dan melindunginya.
    5. Akal yang sehat menolak penghinaan terhadap akal itu sendiri.
    6. Orang yang disebut berakal adalah orang yang mampu memilah kebaikan dari dua keburukan.

Mengenal Al-Quran dan Sunah

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: ‘Al-Quran diturunkan kepada kalian sebagai penjelas segala sesuatu. Allah memanjangkan umur Nabi dan berada di tengah kalian sehingga Allah menyempurnakan buatnya dan buat kalian –terkait dengan ajaran yang diturunkan lewat Al-Quran- agama-Nya yang diridai-Nya”.

Masih tentang Al-Quran, Ali menuturkan: “Demikianlah Al-Quran. Ia tidak dapat berbicara. Oleh karenanya ajak berdialog Al-Quran. Akan tetapi aku akan mengabarkan kepada kalian tentang Al-Quran. Ketahuilah, di dalamnya ada ilmu tentang yang akan datang sebagaimana ada cerita tentang masa lalu. Al-Quran adalah obat penyakit kalian dan memperbaiki hubungan di antara kalian.

Sebagian ayat Al-Quran berdialog dan berbicara dengan sebagian yang lain. Sebagian ayat Al-Quran menjadi saksi buat ayat yang lain. Al-Quran tidak berselisih tentang Allah dan tidak juga pembawa Al-Quran, Muhammad, menyimpang dari Allah.  Al-Quran tidak bengkok sehingga perlu diluruskan, tidak menyimpang sehingga perlu ditegur dan dinasihati. Ia tidak diciptakan karena banyaknya penolakan dan seringnya sampai ke pendengaran. Keajaibannya tidak akan pernah sirna sebagaimana keanehan-keanehannya tidak bakal lenyap. Kegelapan tidak akan lenyap tanpa Al-Quran. Al-Quran bak musim semi yang menyegarkan hati. Al-Quran adalah sumber ilmu. Tidak akan ditemukan sesuatu yang lebih jelas dan menjadi buat hati selain Al-Quran.  Ia merupakan tambang iman dan fondasinya, sumber ilmu dan lautannya, taman keadilan dan bagian darinya, dasar Islam dan bangunannya, sungai-sungai bak tempat aliran kebenaran dan ladangnya, lautan yang tidak akan pernah habis dikuras, mata air yang mengalir yang tidak akan habis ditadah. Allah menjadikan Al-Quran sebagai pelepas dahaga ulama, penyemai hati para fakih, sebagai pelita jalan orang-orang tulus, petunjuk orang yang sadar, kata mutiara para perawi, penuntas pencari keadilan, penyembuh penyakit yang tak berefek, dan obat penuntas segala penyakit.

Berkenaan dengan Sunah Rasulullah saw., Ali bin Abi Thalib telah mengajak kaum muslimin untuk mengamalkannya. Beliau juga senantiasa menerangkan posisi para imam dalam menyampaikan Sunah yang benar kepada umat Islam serta menghidupkan ajaran-ajaran Nabi yang berusaha untuk dihilangkan oleh para penyeleweng dan mereka yang ingin menonaktifkan Sunah Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Ikutilah tuntunan Nabi kalian Muhammad saw karena tuntunannya adalah hidayah yang paling utama. Amalkanlah Sunah Nabi karena Sunahnya adalah yang paling menuntun manusia’.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Hamba yang paling dicintai di sisi Allah adalah orang yang mengikuti dan mengamalkan sesuai dengan perilaku dan jejak-jejak Nabi Muhammad saw’. Beliau melanjutkan, ‘Relakanlah Muhammad saw sebagai pemandu kalian dan jadikan ia sebagai pemimpin menuju keselamatan’.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Pada tangan manusia ada kebenaran dan kebatilan, kejujuran dan kebohongan, nasikh (yang menghapus) dan mansukh (yang terhapus), umum dan khusus, muhkam (yang pasti) dan mutasyabih (yang samar) dan dihafalkan dan dikhayalkan. Telah terjadi ada orang yang berdusta atas nama Rasulullah saw ketika Nabi masih hidup sehingga membuat beliau harus bersiri berpidato, ‘Barang siapa yang berbohong dengan mengatasnamakan namaku secara sengaja niscaya ia telah menyiapkan tempatnya di neraka’.
Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Keluarga Muhammad saw tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun dari umat ini. Kehidupan mereka adalah personifikasi ilmu sementara kematian bagi mereka sama artinya dengan kebodohan. Mereka tidak pernah menentang kebenaran dan tidak pernah berselisih tentangnya. Mereka adalah tiang-tiang penguat agama dan sahabat karib yang menjaga. Dengan keberadaan mereka niscaya kebenaran kembali pada takarannya dan kebatilan akan sirna dan lenyap dari tempatnya serta lidahnya akan terpotong dari pangkalnya. Mereka mengikat agama dengan akal yang sadar dan terlindung tidak dengan akal yang hanya mendengar dan kemudian meriwayatkan. Mereka adalah tempat rahasia-rahasia Rasulullah saw dan pengayom urusannya, pelapis dan pelindung ilmunya dan penakwil hikmah-hikmahnya, gua tempat buku-bukunya dan gunung yang melindungi agamanya. Mereka adalah lentera di kegelapan dan sumber kebijakan, tambang ilmu dan tempatnya kesabaran’.

Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Sesungguhnya aku berada di atas kebenaran yang jelas dari Tuhanku dan sesuai dengan cara Nabiku. Sesungguhnya aku berada di atas jalan yang jelas ketika aku berucap’.[4]

[1] . Ushul Al-Kafi, juz 1, bab Dzikr As-Shahifah wa Al-Jifr, Al-Jami’ah wa Mushaf Fathimah. Sirah Al-Aimmah Al-Itsna Asyar, jilid 1, hal 96-99 dan 274-294.

[2] . Muhammad Shadiq Ash-Shadr, Hayah Amiril Mu’minin fi Ahdi An-Nabi, hal 403.

[3] . Nahjul Balaghah, khotbah ke 176, cetakan Shubh As-Shalih.

[4] . Mu’jam Maudhu’i li Nahjul Balaghah, hal42-43 dan 101. Tashnif Ghurar Al-Hikam, 109-117.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASY’ARI

Kata-kata Bijak Ali Bin Abi Thalib

Surat "Cinta" Ali bin Abi Thalib