Postingan

Seluk Beluk Kerakusan

Seluk Beluk Kerakusan Rasa rakus itu merongrong dari dalam. Ia selalu ingin lebih, daripada apa yang ada. Tak ada batas dari keinginan tersebut. Kenikmatan apapun, baik dalam bentuk makanan, nama besar, uang, barang, maupun seks, tak akan pernah bisa memuaskan. Rasa rakus ingin mengumpulkan barang-barang mewah. Untuk itu, ia butuh uang. Orang pun didorong untuk melakukan beragam cara, guna memuaskan rasa rakus yang bercokol di dalam dirinya. Tak heran, banyak orang kaya tetap saja menjadi maling, supaya ia bisa mendapat uang lebih banyak, dan mengumpulkan lebih banyak harta benda yang, sebenarnya, tak ia butuhkan. Rasa rakus tak hanya soal harta atau nama besar. Ada juga rasa rakus spiritual. Orang menekuni jalan-jalan spiritual untuk memenuhi kekosongan di dalam dirinya. Banyak yang terjebak ke dalam sekte-sekte sesat yang justru semakin mengobarkan hasrat kerakusan. Banyak pula yang terjebak ke dalam radikalisme agama, dan bahkan menjadi teroris yang menciptakan penderitaan bagi bany...

Kata-kata Bijak Ali Bin Abi Thalib

Kata-kata Bijak Ali Bin Abi Thalib 1. "Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu". 2. "Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya". 3. "Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai". 4. "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia". 5. "Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya". 6. "Jangan gunakan ketajaman kata-katamu pada ibumu yang mengajarimu cara berbicara". 7.  "Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak". 8. "Barang siapa menyalakan ap...

Surat Ali bin Abi Thalib kepada Salman

Isi Surat Ali bin Abi Thalib ke Sahabat Salman Soal Dunia Dalam buku Ali bin Abi Thalib karya Ali Audah dijelaskan, sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki karakter yang mulia. Hal ini memang tak lepas dari bimbingan langsung Rasulullah SAW, di mana sejak dini sayyidina Ali telah hidup bersama Rasulullah SAW layaknya anak sendiri.   Di usia sayyidina Ali yang ke-30 tahun, di tengah-tengah para sahabat yang sebagian sudah dua kali lipat umurnya, khalifah Abu Bakar selalu meminta pendapat sayyidina Ali dalam menghadapi persoalan. Selama masa itu, dia lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada ilmu dan belajar-mengajar.   Sayyidina Ali boleh dikatakan merupakan seorang yang zahid, hidupnya lebih banyak dihabiskan dalam menahan lapar, beliau tangguh dan kuat dalam menahan diri dalam masalah-masalah dunia, dan merupakan sosok yang tekun beribadah. Dalam suratnya kepada Salman, sayyidina Ali bin Abi Thalib menulis:   مَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ الْحَيَّةِ ، لَيِّنٌ ...

ASY’ARI

ASY’ARI DAN PEMIKIRAN TEOLOGISNYA I. Pendahuluan Paruh kedua abad ketiga merupakan fase penting bagi perkembangan pemikiran di dunia Islam. Masa itu diwarnai kebebasan berpikir setelah beberapa dekade sebelumnya umat Islam hidup di bawah pemerintahan represif yang menjadikan paham Mu’tazilah sebagai teologi resmi pemerintah. Tiap orang bebas menyampaikan pendapatnya tanpa merasa takut akan mendapatkan tekanan dari penguasa. Iklim yang kondusif bagi perkembangan pemikiran Islam ini bermula ketika al-Mutawakkil yang berkuasa dari tahun 234-247 H. menghapus teologi Mu’tazilah sebagai teologi resmi penguasa dan memberikan keleluasaan bagi aliran lain, khususnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Isu Al-Qur`an sebagai makhluk yang banyak menjebloskan ulama non Mu’tazilah ke penjara dicabut dari peraturan pemerintah. Pada masa itu muncul kelompok-kelompok yang membela pendapat Ahlussunnah dengan menggunakan argumentasi rasional. Tersebutlah nama Abu Hasan al-Asy’ari di Bashroh yang menyatakan dukunga...